Bisulan

Apakah kamu pernah bisulan? Dalam bahasa Jawa disebut ‘wudunen’ . Pernah kan ‘wudunen’? hah, belum pernah? Huuu ndeso!  Kamu kudu pernah mengalami derita ‘wudunen’ ! loh kok maksa?! kalau nggak pernah mana bisa menggambarkan rasanya! Baiklah kalau kamu sama sekali ga bisa membayangkannya.

Begini, bila kamu bisulan di kepala, saat menyisir rambut, sedikit saja tersentuh rasanya teng…teng…teng… nyeri sob! Masih mending di kepala, nah kalau bisulan di pantat, kamu akan sangat menderita. Bayangkan, bukankah sebagian besar aktivitas selama seharian adalah duduk? Nah, kamu harus absen duduk selama bisulan.  Dulu, waktu saya SD sempat beberapa kali ‘wudunen’ di kepala, pernah juga di pantat, untungnya posisi wudunen di pantat sebelah kiri. Jadi, masih bisa duduk dengan pantat sebelah kanan, meski itu ga enak banget sob! Kebayang kan duduk dengan sebelah pantat? Ya, pegal. Rasanya saya ga kepingin lagi ‘wudunen’. Cukup! Kapok!

Ada cerita tentang Bisul nih. Bu Ani Yudhoyono, isteri SBY, mengungkapkan bagaimana rasanya menjadi isteri Presiden selama 10 tahun. Rasanya seperti ‘wudunen’ selama 10 tahun. Ia menyatakannya saat diwawancarai oleh wartawan TVOne baru-baru ini. Ini serius loh, saya nggak bohong, beliau yang mengungkapkannya sendiri di hadapan presenter dan Pak SBY dalam wawancara eksklusif pasca lengser.

Jadi, menjadi isteri Presiden ga enak banget yah?

“Saya merasa lega, plong” katanya.

Semoga saja Bu Ana, isteri Presiden Jokowi, menonton acara wawancara eksklusif tersebut. Kalau sudah tahu kan beliau bisa mengantisipasi dengan menyiapkan bawang putih atau salep ichtyol hehehe… .

Tapi saya ragu kalau Bu Ani merasa seperti ‘wudunen’ selama 10 tahun.

Ada sisi yang mungkin tidak sempat diungkap bahwa saat menjadi Ibu Negara adalah saat yang menyenangkan. Dalam bahasa Jawa “keturutan kabeh”. Seperti kata Laura Bush, isteri Presiden AS ke-43 George W. Bush, “The role of First Lady is whatever the First Lady wants it to be.”

Alih-alih menahan ‘wudun’ yang ga enak rasanya, Bu Ani tampak bahagia selama dua periode pemerintahan. Ia tampak menikmati menjadi First Lady, mendampingi Pak SBY ke manapun pergi; ke luar negeri, ke pelosok Nusantara sambil memotret apa saja yang menjadi hobinya, lalu memajangnya di akun instagramnya. Meski kadang-kadang ada followernya yang usil; menyindir dan mengkritik foto-foto di instagramnya.

Ya memang begitulah menjadi Ibu Negara. Sepertinya Bu Iriana patut mencermati pesan Barbara Bush isterinya George Bush, bahwa Ibu Negara akan terus dikritik apapun yang dia kerjakan. “…you just have to be yourself and do the best you can. And so what? That’s the way it is.”

Film Miracle in Cell no.7

Alkisah ada keluarga bahagia, seorang Ayah bernama Lee Yong Go dan putrinya Jae Seung. Lee Yong Go (40-an tahun) menderita keterbelakangan mental atau dalam bahasa medis dikenal sebagai retardasi mental. Kecerdasannya rendah. Meski sudah menjadi Ayah bagi Jae Seung, ia masih bersikap seperti anak-anak.

 Jae Seung amat menyukai tokoh kartun Sailor Moon.  Begitu pula Ayahnya.

 Suatu hari mereka mengunjungi sebuah toko yang menjual tas bergambar Sailor Moon. Di depan toko tersedia sebuah televisi yang memutar lagu Moonlight Densetsu berulang-ulang. Keduanya menyukai lagu ini. Hingga hafal.

Kira-kira begini liriknya:

Gomen ne sunao ja nakute
Yume no naka nara ieru
Shikou kairo wa shotto sunzen
Ima sugu aitai yo

Nakitaku naru you-na Moonlight
Denwa mo dekinai Midnight
Datte junjou doushiyou
Hatto wa mangekyou

Tsuki no hikari ni michibikare
Nandomo meguri-au
Seiza no matataki kazoe
uranau koi no yukue
Onaji kuni ni umareta no mirakuru romansu
Shinjite-iru no Mirakuru romansu

Jae Sung amat menginginkan tas punggung kuning yang bergambar Sailor Moon. Sayangnya, Ayah Jae Sung belum gajian. Namun Ia berjanji akan membelinya. Hingga pada saat anak Komisaris Polisi bernama Ji Yeong membeli tas yang diidam-idamkan Jae Seung di toko tersebut, Lee berusaha merebutnya. Usahanya mendapatkan tas Sailor Moon malah berujung nahas, Ia mendapat bogem mentah dari Si Komisaris.

 Tibalah saat gajian bagi Lee. Oh iya Lee adalah seorang juru parkir. Saat menghitung uang gajian, Ji Yeong kebetulan lewat dan menghampiri Lee. Ji Yeong memberitahu Lee perihal toko yang masih menjual tas Sailor Moon. Lalu Lee mengikutinya dari belakang.

 Peristiwa yang tak terduga terjadi, Ji Yeong terjatuh dan meninggal seketika. Lee yang mengikutinya dari belakang berusaha menolongnya. Berbekal pengetahuan dasar tentang P3K yang ia dapat dari Pelatihan sebagai Juru parkir, ia memberi napas buatan dan mengendurkan celana korban agar peredaran darahnya lancar.

 Tiba-tiba ada orang lain lewat dan menyaksikan Lee yang sedang berusaha memberikan nafas buatan. Tapi persepsi orang tersebut (kemudian saksi) justru mengira Lee sedang melakukan perbuatan cabul. Akhirnya Lee ditangkap.

 “apa yang kau lihat, belum tentu itu sesuai persepsimu”

 Dalam olah kejadian perkara, dibawah tekanan massa, ia dianggap bersalah. Ia dipenjara. Oh iya, setelah Lee dipenjara, Jae Seung ditipkan ke panti asuhan.

 Ia dimasukkan ke sel nomor 7. Di dalamnya sudah ada 5 penghuni, Bong Sik (copet), Chun Ho (penipu), Man Beom (pezinah), Seo (penipu), So Yang Ho (penyelundup) sekaligus gangster.

 Hari pertama ia sudah dihajar oleh penghuni sel nomor 7. Namun pada kesempatan yang lain, ia dengan keberaniannya seperti Sailor Moon, justru menyelamatkan So Yang Ho dari tikaman gangster lain di dalam penjara. Dari sinilah awal persahabatan dengan para penghuni sel nomor 7. Atas jasanya menyelamatkan So Yang Ho, Lee bisa berjumpa Jae Seung. Jae Seung diselundupkan ke sel nomor 7. Bagaimana caranya? Pada saat seperti inilah keterampilan sebagai copet, penyelundup, penipu, amat berguna. Mudah saja bagi mereka.

 Namun kejadian ini terendus Kepala Penjara. Ia marah sekali. Ia menghajar Lee dan menempatkannya di sel sempit, kedua tangan dan kakinya diikat.

 Bersamaan dengan itu, ada kebakaran di penjara. Rupanya ada ketua gangster yang sengaja membakar ruangan. Seluruh penghuni rutan panik. Oleh sipir mereka diungsikan ke luar ruang tahanan. Ketika Lee hendak menyelamatkan diri, ia melihat Kepala penjara dalam bahaya, lalu Lee berusaha menyelamatkan nyawanya. Kepala penjara selamat.

 Kejadian ini mengharukan bagi Kepala Penjara. Orang yang sangat dibenci justru menyelamatkannya. Konflik batin pun muncul. Ia mulai memeriksa berkas Lee. Ia ingin membebaskan Lee dari tuduhan atas kejahatan pembunuhan dan pemerkosaan. Baginya, mustahil seorang seperti Lee melakukan tindakan pembunuhan. Bahkan kepala Penjara mengijinkan Jae Seung tinggal bersama Lee di sel nomor 7. Di dalam sel Jae Seung yang masih bocah mengajari baca tulis kepala gangster yang belum bisa membaca.

 Persidangan kembali digelar. Namun Lee kembali ditekan dan diancam. Khawatir keselamatan Jae Seung, ia terpaksa mengatakan “aku bersalah”. Bahkan vonis di persidangan menyatakan Lee dihukum mati atas dugaan pembunuhan dan perkosaan. Eksekusi akan dilaksanakan 23 Desember.

 Para penghuni sel no.7 memiliki inisiatif untuk mengeluarkan Lee dan Jae Seung dengan balon udara, tapi usaha ini gagal.

 Tibalah saat yang mengharukan bagi penonton, Lee dan Jae Seung harus berpisah pada 23 Desember. Jae Seung menangis sekencang-kencangnya.

“Keadilan macam apa ini, seorang penderita retardasi mental harus menerima hukuman mati atas tuduhan pembunuhan dan perkosaan yang tidak pernah dilakukannya.”

 Dalam perjalanan waktu, Jae Seung tinggal bersama Kepala Penjara. Ia bercita-cita menjadi pembela keadilan.

 Ketika Jae Seung sudah dewasa dan sudah menjadi Lawyer, ia kembali meminta agar persidangan ayahnya digelar kembali untuk membersihkan nama Ayahnya, persidangan kembali digelar.

 Akhirnya kemenangan pun diraih Jae Seung. Pengadilan memutuskan Ayahnya tidak bersalah. Meski Ayahnya sudah tidak hidup di dunia, peristiwa ini sangat penting bagi Jae Seung. Inilah yang dicita-citakan dari kecil.

“Keadilan harus diperjuangkan”

James Hansen retires to pursue climate fight..more likely he was told to “f*** off”

Follow The Money

_66706106_85499118

http://www.bbc.co.uk/news/science-environment-22000810

One of the leading voices on the science of global warming is to retire from Nasa this week to be more active in the fight against fossil fuels.

Dr James E Hansen has been the head of the Goddard Institute for Space Research since 1981.

He is sometimes called the “father of global warming” for his early warnings about the impacts of rising levels of greenhouse gases.

But some critics say he has hampered the cause by overstating the risk.

In the 1970s, Dr Hansen focused on studies and computer simulations of the Earth’s climate for the purpose of understanding the impact of humans.

He quickly became convinced that there was a clear link between increases in concentrations of carbon dioxide and rising temperatures. His work helped identify the ways in which the planet might respond to greater warming.

In 1981, he published the first Goddard Institute Surface Temperature…

Lihat pos aslinya 402 kata lagi

Etika Penjaga Republik

Oleh: Donny Gahral Adian ; Dosen Filsafat Politik Universitas Indonesia
KOMPAS, Rabu 27 Maret 2013

 

Beberapa peristiwa berdarah yang melibatkan para penjaga negara sungguh memprihatinkan.

Serangan terhadap Markas Polres Ogan Komering Ulu, sampai eksekusi mati terhadap empat tahanan LP Cebongan, semuanya membunyikan sinyal tanda bahaya bagi tertib sosial dan keadaban publik kita. Apalagi ketika negara kelihatan kaget dan gagap menangani kasus demi kasus itu. Ketika organisasi yang memonopoli koersi gagal merawat dan menjaga rasa aman, rakyat seperti hidup di sarang penyamun. Apalagi kenyataan membentang betapa alat negara yang bersenjata justru acap kali merusak rasa aman publik.

Kelas Penjaga

Alasan beradanya sebuah negara adalah keselamatan dan keamanan warganya. Sebagai teritori yang berdaulat, negara perlu menjamin keamanan secara internal dan eksternal sekaligus. Untuk itu, polisi dan militer dibutuhkan. Dari semua organ negara yang memiliki fungsi koersi, kedua institusi tersebut paling istimewa. Sebab, keduanya memiliki lisensi membunuh dalam situasi tertentu. Prajurit dapat menghilangkan nyawa tentara musuh dalam situasi perang. Dalam keadaan darurat, polisi pun dapat menembak di tempat para kriminal.

Dengan lisensi tersebut, militer, meminjam Plato, adalah sebuah kelas tersendiri. Plato menyebutnya kelas penjaga (guardian). Hak-hak istimewa kelas penjaga dimaksudkan untuk menciptakan rasa aman bagi warga dan ketakutan bagi musuh-musuh negara. Latihan perang, misalnya, acap kali dilakukan semata-mata sebagai efek penggentar bagi siapa saja yang mencoba mengganggu kedaulatan negara. Nah, bagaimana ketika hak istimewa tersebut tidak dipakai untuk menunaikan kewajiban konstitusional, tetapi untuk mengeksekusi semacam keadilan bawah tanah?

Siapa sebenarnya kelas penjaga tersebut? Plato menekankan betapa kelas penjaga adalah kelas istimewa. Disebut istimewa karena kelas penjaga tidak diikat oleh apa pun selain kebaikan umum (summum bonum). Dengan demikian, kelas penjaga menjalankan semacam asketisme sekuler.
Mereka mengerem setiap jengkal hasratnya terhadap kesenangan pribadi guna menjaga republik dari intrusi kaum barbar. Dengan demikian, kelas penjaga adalah teladan bagi warganya. Mereka adalah prototipe warga negara yang tidak mudah ditiru setiap lakunya.

Keutamaan kardinal yang dimiliki kelas penjaga adalah keberanian (courage). Keberanian bukan perbuatan gegabah tanpa tuntunan akal sehat. Keberanian justru sangat bersumbu pada akal sehat. Dia yang memiliki keberanian dituntun oleh keyakinan. Kelas penjaga mesti berkeyakinan terhadap opini yang benar. Opini yang benar adalah doxa atau dogma yang harus diikuti tanpa syarat. Bagi Plato, opini yang benar atau doxa bukan pengetahuan, melainkan sejenis mitos yang membuat kelas penjaga secara sadar, ikhlas, dan militan menjaga republik. Dia adalah ideologi yang dipatuhi dan diyakini sehingga mampu mengenyahkan setiap hasrat pribadi yang menyimpang.

Secara internal, kelas penjaga memang tak mengenal demokrasi. Kelas penjaga hanya mengenal indoktrinasi opini yang benar atau ideologi. Namun, indoktrinasi tersebut memiliki fungsi etika-politiknya sendiri. Demokrasi sebagai cara hidup bersama perlu dilindungi oleh sebuah kelas yang menjalankan laku asketisme tingkat tinggi. Indoktrinasi opini yang benar bertujuan menciptakan kelas penjaga yang siap mengorbankan apa pun demi konstitusi sekaligus hidup bersama yang diaturnya.

Etika Penjagaan

Setiap komunitas politik membutuhkan militer sebagai kelas penjaga. Sebagai kelas penjaga, setiap prajurit dituntut untuk mengorbankan diri bagi keamanan komunitas politik yang dilindunginya. Keputusan untuk berkorban dan membela tersebut tidak boleh dikembalikan kepada evaluasi etis pribadi masing-masing ala etika liberal. Keputusan tersebut harus diukur berdasarkan patokan yang netral, imparsial, dan kolektif. Dengan kata lain, prajurit tidak mempraktikan semacam etika liberal yang individualistis. Di sini ironi terjadi. Demokrasi liberal sejatinya justru membutuhkan kelas penjaga yang menolak etika atau moralitas liberal.

Etika militer atau kelas penjaga bersifat anakronistik terhadap etika liberal. Namun, etika tersebut tidak berseberangan dengan kebutuhan fungsional sebuah masyarakat liberal. Etos militer tersebutlah yang menciptakan rasa aman sehingga demokrasi bisa dijalankan secara saksama. Alih-alih berkonflik dengan demokrasi, militer justru merupakan sumber keutamaan-keutamaan positif. Keutamaan-keutamaan yang dikesampingkan masyarakat liberal justru dihidupkan dan dirawat di dalam militer.
Kesetiaan, pengorbanan, militansi, dan keberanian adalah sebagian keutamaan tersebut.

Militer adalah institusi yang berfungsi sebagai gudang penyimpan sumber daya moral. Sumber daya moral tersebut adalah kekuatan imaterial yang dimiliki negara menghadapi berbagai ancaman yang mungkin. Moralitas non-liberal yang dimiliki militer berseberangan dengan kultur liberal-utilitarian yang memuja pengejaran individual atas kenikmatan atau kebahagiaan. Moralitas tersebut juga berseberangan dengan kultur sektarian yang memuliakan kepentingan kelompok di atas kepentingan bangsa dan negara. Dua musuh etis militer pun menjadi sangat jelas. Pertama adalah individualisme tanpa batas dan, kedua, sektarianisme atau semangat kelompok yang membabi buta.

Kehadiran militer adalah sebuah pertanyaan eksistensial. Militer adalah segaris pertanyaan tentang apa itu keadilan, pengorbanan, dan pengecualian. Semua pertanyaan tersebut tidak dapat diserahkan pada kebijakan pribadi setiap prajurit. Kita memerlukan semacam patokan etis-kolektif sebagai pandu setiap laku prajurit. Institusionalisasi nilai tersebut diperlukan guna mencegah penyalahgunaan kekuatan militer, seperti yang kita saksikan belakangan ini. Kegagalan negara menyiapkan etika militer non-liberal adalah tanda bahaya bagi kelangsungan dirinya sebagai entitas politik.

Penanaman etika militer di kalangan prajurit menjadi keharusan moral sekaligus institusional. Sebab, penyalahgunaan kekuatan bersumber dari absennya pandu etis dalam pengambilan keputusan. Untuk itu, pendidikan militer harus dilengkapi dengan filsafat moral yang tepat. Pendidikan militer adalah penanaman patriotisme, bukan semata-mata sebagai semangat bela negara, melainkan keutamaan kardinal yang mesti dimiliki setiap prajurit. Patriotisme perlu dimaknai sebagai deindividualisasi dan desektarianisasi dalam setiap pengambilan keputusan di lapangan. Keputusan tentang siapa musuh, apa yang dilindungi dan bagaimana cara memerangi harus disekat oleh moralitas kolektif yang jelas dan gamblang. Pada akhirnya, setiap prajurit harus memahami bahwa setiap peluru yang ditembakkan adalah demi negara sebagai materialisasi konstitusi, bukan pribadi atau kelompok tertentu.

Tiga Kaki Kiri Hentikan Milan

Atmosfer di Camp Nou pada Leg 2 ini betul-betul membuat merinding fans Barca di seluruh jagat. Optimisme para pemain dibuktikan dengan 4 gol dan penguasaan bola rata-rata 65%. Para pemain AC Milan dibuat tak berkutik.

Keempat gol FC Barcelona ke gawang Abbiati pada Leg 2 di Camp Nou dilesakkan dengan kaki kiri. Kaki kiiri siapa saja? Messi, Villa, dan Jordi Alba.

Apakah mereka pemain kidal? hanya Messi yang kidal.

Faktor fans

Menurut Pihak FC Barcelona melalui akun twitter @fcbarcelona ada sekitar 94.944 fans di Camp Nou pada laga tersebut. Benar apa kata Pique, Barca butuh fans yang percaya dan yakin bahwa pemain bisa memenangi pertandingan. Barca mampu comeback dari kekalahan 0-2 di Leg I atau istilah Katalan-nya Remuntada.

Taktik

Meski Milan sempat “parkir bus” di daerah pertahanannya, FC Barca bisa menusuk dari tengah. Gol pertama hasil kreasi Busquet-Messi-Xavi dan diselesaikan dengan baik oleh Messi. Gol pertama Barca sangat penting. Sebab itu meruntuhkan mental pemain Milan. Gol Messi, Villa, Alba mengubur harapan Milan melaju babak 8 besar.

Selama 90 menit Barca berhasil menerapkan total football–meminjam twitnya @rioferdy5.

Remuntada!

 

Menunggu Peluit Victor Kassai Ditiup

BFKnjPrCcAAyfZW.jpg large

Camp Nou akan menjadi saksi sejarah duel dua tim besar Eropa. Catatan ini saya buat 5 jam sebelum kick off. Saya bisa pastikan para fans FC Barca deg-degan. Denyut jantung akan makin deg-degan ketika peluit Victor Kassai asal Hungaria ditiup kencang sebagai tanda pertarungan dimulai.

Milan mungkin merasa di atas angin karena mereka menang 2-0 di Leg I di Guiseppe Meaza berkat gol Kevin “Prince” Boateng dan Sulley Muntari. Duo Ghana ini memporak-porandakan mental Messi dkk. Tapi itu bukan jaminan.

Atmosfer Camp Nou tampak penuh optimisme dan emosional. Lihat pernyataan Pique : “Fans yang tak yakin kami masih bisa comeback melawan AC Milan tak usah datang ke stadion! Kami pasti mampu!” kata Pique: “Kami butuh 90.000 orang (Camp Nou) yg percaya kami dpt melaju dan lolos ke babak selanjutnya.”

Saya kira pernyataan bernada optimis dan percaya diri itu penting, sebab akan berpengaruh pada semangat bermain di lapangan dan mental para pemain. Lagi, pernyataan Pique: “Kami bisa melakukannya, Kita tahu kebobolan akan membuat sulit sekalipun, kita harus fokus, membuka lapangan, membuat bola bergerak cepat ….”

Daripada komentar-komentar pujian kepada lawan, sebagaimana yang dilontarkan Puyol saat leg I. Bukan waktu yang tepat memuji lawan, meski itu sebagai bentuk kerendahan hati.

Official: Xavi yg kemarin mengalami cidera paha telah mendapat lampu hijau dari tim medis dan siap bertanding lawan Milan. Jadi Perkiraan line-up (vs Milan): Valdes – Puyol Pique Alba – Xavi Busquets Iniesta – Alves Villa Messi Pedro [ sumber: el pais].

Konon Milan akan didukung 4.600 fans di Camp Nou. Termasuk Ricardo Kaka juga akan hadir di Camp Nou sebagai Milanisti.

Tenang, Jumlah tersebut bukan apa-apa kala 90.000 fans Barca membiru-merahkan Camp Nou. Teriakan mereka akan menambah kegarangan Xavi mengkreasi serangan ke kandang Abbiati.

Saya melihat ada Optimisme pada laga kedua yang menentukan ini.

Kalau dalam bahasa Katalan optimisme itu dinyatakan dengan slogan: ” La Remuntada : Ens Hi Deixarem La Pell ! ” Artinya dalam bahasa Inggris: “Comeback : We’ll fight till the end !” ~ #REMUNTADA #SomUnEquip

AYO MESSI kamu bisa!

 

 

 

Pindahan

Blog dan Rumah sepertinya sama saja; sama-sama beralamat. Rumah lamaku, di blog posterous dot com akan ditutup 30 April 2013. Jadi saya memutuskan pindah ke WordPress. Daripada tidak punya rumah, nantinya.

Saya bersyukur pihak WordPress tidak mensyaratkan apa-apa. Modalnya cuma KTP, eh maksudnya email.