Monthly Archives: Januari 2014

Film Miracle in Cell no.7

Alkisah ada keluarga bahagia, seorang Ayah bernama Lee Yong Go dan putrinya Jae Seung. Lee Yong Go (40-an tahun) menderita keterbelakangan mental atau dalam bahasa medis dikenal sebagai retardasi mental. Kecerdasannya rendah. Meski sudah menjadi Ayah bagi Jae Seung, ia masih bersikap seperti anak-anak.

 Jae Seung amat menyukai tokoh kartun Sailor Moon.  Begitu pula Ayahnya.

 Suatu hari mereka mengunjungi sebuah toko yang menjual tas bergambar Sailor Moon. Di depan toko tersedia sebuah televisi yang memutar lagu Moonlight Densetsu berulang-ulang. Keduanya menyukai lagu ini. Hingga hafal.

Kira-kira begini liriknya:

Gomen ne sunao ja nakute
Yume no naka nara ieru
Shikou kairo wa shotto sunzen
Ima sugu aitai yo

Nakitaku naru you-na Moonlight
Denwa mo dekinai Midnight
Datte junjou doushiyou
Hatto wa mangekyou

Tsuki no hikari ni michibikare
Nandomo meguri-au
Seiza no matataki kazoe
uranau koi no yukue
Onaji kuni ni umareta no mirakuru romansu
Shinjite-iru no Mirakuru romansu

Jae Sung amat menginginkan tas punggung kuning yang bergambar Sailor Moon. Sayangnya, Ayah Jae Sung belum gajian. Namun Ia berjanji akan membelinya. Hingga pada saat anak Komisaris Polisi bernama Ji Yeong membeli tas yang diidam-idamkan Jae Seung di toko tersebut, Lee berusaha merebutnya. Usahanya mendapatkan tas Sailor Moon malah berujung nahas, Ia mendapat bogem mentah dari Si Komisaris.

 Tibalah saat gajian bagi Lee. Oh iya Lee adalah seorang juru parkir. Saat menghitung uang gajian, Ji Yeong kebetulan lewat dan menghampiri Lee. Ji Yeong memberitahu Lee perihal toko yang masih menjual tas Sailor Moon. Lalu Lee mengikutinya dari belakang.

 Peristiwa yang tak terduga terjadi, Ji Yeong terjatuh dan meninggal seketika. Lee yang mengikutinya dari belakang berusaha menolongnya. Berbekal pengetahuan dasar tentang P3K yang ia dapat dari Pelatihan sebagai Juru parkir, ia memberi napas buatan dan mengendurkan celana korban agar peredaran darahnya lancar.

 Tiba-tiba ada orang lain lewat dan menyaksikan Lee yang sedang berusaha memberikan nafas buatan. Tapi persepsi orang tersebut (kemudian saksi) justru mengira Lee sedang melakukan perbuatan cabul. Akhirnya Lee ditangkap.

 “apa yang kau lihat, belum tentu itu sesuai persepsimu”

 Dalam olah kejadian perkara, dibawah tekanan massa, ia dianggap bersalah. Ia dipenjara. Oh iya, setelah Lee dipenjara, Jae Seung ditipkan ke panti asuhan.

 Ia dimasukkan ke sel nomor 7. Di dalamnya sudah ada 5 penghuni, Bong Sik (copet), Chun Ho (penipu), Man Beom (pezinah), Seo (penipu), So Yang Ho (penyelundup) sekaligus gangster.

 Hari pertama ia sudah dihajar oleh penghuni sel nomor 7. Namun pada kesempatan yang lain, ia dengan keberaniannya seperti Sailor Moon, justru menyelamatkan So Yang Ho dari tikaman gangster lain di dalam penjara. Dari sinilah awal persahabatan dengan para penghuni sel nomor 7. Atas jasanya menyelamatkan So Yang Ho, Lee bisa berjumpa Jae Seung. Jae Seung diselundupkan ke sel nomor 7. Bagaimana caranya? Pada saat seperti inilah keterampilan sebagai copet, penyelundup, penipu, amat berguna. Mudah saja bagi mereka.

 Namun kejadian ini terendus Kepala Penjara. Ia marah sekali. Ia menghajar Lee dan menempatkannya di sel sempit, kedua tangan dan kakinya diikat.

 Bersamaan dengan itu, ada kebakaran di penjara. Rupanya ada ketua gangster yang sengaja membakar ruangan. Seluruh penghuni rutan panik. Oleh sipir mereka diungsikan ke luar ruang tahanan. Ketika Lee hendak menyelamatkan diri, ia melihat Kepala penjara dalam bahaya, lalu Lee berusaha menyelamatkan nyawanya. Kepala penjara selamat.

 Kejadian ini mengharukan bagi Kepala Penjara. Orang yang sangat dibenci justru menyelamatkannya. Konflik batin pun muncul. Ia mulai memeriksa berkas Lee. Ia ingin membebaskan Lee dari tuduhan atas kejahatan pembunuhan dan pemerkosaan. Baginya, mustahil seorang seperti Lee melakukan tindakan pembunuhan. Bahkan kepala Penjara mengijinkan Jae Seung tinggal bersama Lee di sel nomor 7. Di dalam sel Jae Seung yang masih bocah mengajari baca tulis kepala gangster yang belum bisa membaca.

 Persidangan kembali digelar. Namun Lee kembali ditekan dan diancam. Khawatir keselamatan Jae Seung, ia terpaksa mengatakan “aku bersalah”. Bahkan vonis di persidangan menyatakan Lee dihukum mati atas dugaan pembunuhan dan perkosaan. Eksekusi akan dilaksanakan 23 Desember.

 Para penghuni sel no.7 memiliki inisiatif untuk mengeluarkan Lee dan Jae Seung dengan balon udara, tapi usaha ini gagal.

 Tibalah saat yang mengharukan bagi penonton, Lee dan Jae Seung harus berpisah pada 23 Desember. Jae Seung menangis sekencang-kencangnya.

“Keadilan macam apa ini, seorang penderita retardasi mental harus menerima hukuman mati atas tuduhan pembunuhan dan perkosaan yang tidak pernah dilakukannya.”

 Dalam perjalanan waktu, Jae Seung tinggal bersama Kepala Penjara. Ia bercita-cita menjadi pembela keadilan.

 Ketika Jae Seung sudah dewasa dan sudah menjadi Lawyer, ia kembali meminta agar persidangan ayahnya digelar kembali untuk membersihkan nama Ayahnya, persidangan kembali digelar.

 Akhirnya kemenangan pun diraih Jae Seung. Pengadilan memutuskan Ayahnya tidak bersalah. Meski Ayahnya sudah tidak hidup di dunia, peristiwa ini sangat penting bagi Jae Seung. Inilah yang dicita-citakan dari kecil.

“Keadilan harus diperjuangkan”

Iklan